Lebak, TargetOprasiNews.Com — Di tengah tawa anak-anak yatim yang pecah di bawah langit Pasir Ona, Rangkasbitung Timur, ada haru yang diam-diam menyelinap di antara setiap tepuk tangan dan doa. Di Café Cikuda Lake, Sabtu (6/6/2026), Komunitas Salam Setetes Darah (KSSD) memperingati Milad ke-6 bukan sekadar sebagai perayaan, tetapi sebagai napas panjang perjalanan kemanusiaan yang lahir dari luka, tumbuh dari kepedulian, dan kini menjelma menjadi harapan.
Enam tahun bukan waktu yang singkat bagi sebuah gerakan yang dibangun bukan dari kemewahan, melainkan dari kegelisahan seorang manusia yang pernah berada di titik paling rentan: kehilangan kepastian akan setetes darah untuk orang yang ia cintai.
Dari situlah kisah ini bermula.
Almarhum Ais Palet, sosok sederhana dari Kabupaten Lebak, tidak meninggalkan gedung megah, tidak pula warisan materi. Ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih abadi: sebuah gerakan kemanusiaan yang mengalir seperti darah itu sendiri—tak terlihat, namun menghidupkan.
Ia pernah berjalan di jalan sunyi relawan, di antara kegiatan sosial komunitas motor Banten, di antara bakti sosial untuk anak yatim, jompo, pondok pesantren, hingga korban bencana. Namun hidupnya berubah selamanya ketika pandemi Covid-19 membuat satu hal yang paling vital menjadi barang langka: darah.
Di saat sang istri melahirkan, ia menyaksikan sendiri bagaimana hidup bisa tergantung pada ketersediaan yang tak pasti. Di tengah kepanikan, di tengah kosongnya stok darah, ia belajar satu hal yang tidak pernah ia lupakan: tidak semua orang seberuntung itu.
Dari luka itulah KSSD lahir.
Namun sejarah KSSD juga menyimpan luka lain yang tak kalah dalam. Kisah dua balita kembar penderita talasemia yang tak sempat tertolong. Dua nyawa kecil yang pergi sebelum sempat mendapatkan kesempatan untuk bertahan. Sejak saat itu, perjuangan KSSD tidak lagi sekadar kegiatan sosial—ia berubah menjadi misi yang tidak boleh gagal.
“Jangan sampai terulang lagi,” menjadi bisikan yang terus hidup di antara para relawan, bahkan setelah suara yang mengucapkannya telah tiada.
Kini, Ais Palet telah berpulang.
Namun yang pergi hanya tubuhnya, bukan semangatnya.
Di tengah ruang yang sama, estafet itu kini berada di tangan sang istri, Maya Umya, yang berdiri bukan sebagai pengganti, tetapi sebagai penjaga amanah. Bersama putranya Aditya dan seluruh keluarga besar KSSD, ia melanjutkan sesuatu yang tak bisa dihentikan oleh waktu: gerakan yang lahir dari kemanusiaan.
“KSSD adalah amanah yang tidak boleh berhenti,” ucapnya, seolah menegaskan bahwa yang mereka jaga bukan sekadar organisasi, melainkan nyawa dari sebuah perjuangan.
Di bawah langit Lebak, Milad ke-6 ini menjadi lebih dari sekadar angka. Ia adalah peringatan bahwa setiap tetes darah yang berhasil disalurkan adalah satu kehidupan yang diselamatkan, satu keluarga yang tidak runtuh, satu harapan yang tidak padam.
Enam tahun telah berlalu sejak sebuah kegelisahan berubah menjadi gerakan. Dan hari ini, kegelisahan itu telah menjelma menjadi gelombang kebaikan yang terus mengalir—melintasi batas, melampaui kehilangan, dan menembus sunyi kemanusiaan.
Sebab pada akhirnya, Ais Palet tidak benar-benar pergi.
Ia hidup di setiap kantong darah yang tersalurkan.
Ia hidup di setiap tangan yang membantu tanpa diminta.
Ia hidup di setiap air mata yang berubah menjadi doa.
Dan KSSD, adalah nama dari kehidupan yang terus ia tinggalkan.
Editor: Edo S
Penerbit: Tim Red

