Dalam pandangannya, kebenaran memiliki sifat resiliensi yang unik. Ia bukan sekadar informasi yang bisa dihilangkan melalui tekanan, melainkan sebuah entitas yang justru akan menguat seiring dengan upaya penekanan yang dilakukan terhadapnya.
Benih Yang Mengakar
Erles Rareral mengibaratkan kebenaran seperti benih yang tertanam di dalam tanah. Meski ditekan atau coba dikubur, hal itu tidak akan mematikan fungsinya. Sebaliknya, proses tersebut justru membuat kebenaran semakin mengakar, mengumpulkan kekuatan, dan pada saatnya akan muncul ke permukaan membawa perubahan yang tak terelakkan.
"Jika kebenaran dibungkam dan dikubur, bukan berarti ia hilang. Justru ia akan mengakar, mengumpulkan kekuatan, dan pada waktunya akan tampil membawa perubahan," tegas Erles dalam pernyataan yang menyoroti pentingnya integritas dalam ruang publik.
Pentingnya Keterbukaan Publik
Fenomena ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa bahwa keterbukaan, kejujuran, dan keberanian dalam menyampaikan fakta adalah pilar utama dalam menjaga kepercayaan publik. Sejarah mencatat bahwa berbagai persoalan yang coba ditutupi pada masa lalu, pada akhirnya selalu terungkap ketika masyarakat memiliki persistensi untuk mencari keadilan.
Menurut Erles, penundaan terhadap kebenaran mungkin terjadi, namun hal tersebut tidak pernah bersifat permanen. Ketika titik jenuh tercapai, berbagai konstruksi kepalsuan yang berdiri di atas fakta yang ditutupi tersebut rentan runtuh dengan sendirinya.
Momentum Perubahan
Pesan ini menjadi refleksi penting, terutama bagi pihak-pihak yang terlibat dalam persoalan hukum maupun sosial. Kejujuran dianggap sebagai fondasi yang lebih stabil dibandingkan dengan rekayasa situasi. Narasi ini juga menegaskan bahwa publik memiliki peran krusial dalam mengawal proses keadilan, di mana dorongan masyarakat untuk mencari kejelasan menjadi pendorong utama bagi terungkapnya kebenaran yang sempat tersembunyi. (*/red)

