WWW.TARGETOPRASINEWS.COM

Dari Parkindo Hingga Masa Kini: Menyalakan Kembali Api Politik Kebangsaan Kristen

Oleh: Kefas Hervin Devananda


Jakarta, TargetOprasiNews. Com — Sebuah bangsa tidak pernah benar-benar besar karena memiliki kekuatan semata. Bangsa menjadi besar karena mampu menghormati jejak perjuangan, menjaga nilai-nilai luhur, dan tidak membiarkan sejarah terkubur oleh lupa.

Sejarah adalah suara masa lalu yang terus mengetuk pintu masa depan. Ia mengingatkan bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menentukan: apakah akan menjadi penonton perjalanan bangsa, atau berdiri sebagai bagian dari perubahan.

Dalam perjalanan panjang Republik Indonesia, umat Kristen telah menorehkan tinta penting dalam sejarah kebangsaan. Namun ironisnya, masih ada sebagian yang memandang politik sebagai ruang gelap penuh kepentingan, konflik, dan perebutan kekuasaan. Akibatnya, banyak orang berintegritas memilih menjauh, sementara ruang keputusan publik perlahan kehilangan suara-suara yang membawa nilai moral.

Padahal, politik bukan sekadar kursi kekuasaan. Politik adalah tempat di mana nasib rakyat diputuskan. Di ruang itulah undang-undang lahir, kebijakan dibuat, dan masa depan jutaan manusia ditentukan.

Ketika orang baik memilih diam, sejarah sering kali memberikan ruang kepada mereka yang hanya mengejar kepentingan.

Perjalanan  menjadi bukti bahwa politik pernah menjadi jalan pengabdian. Bukan sekadar kendaraan kelompok, tetapi bagian dari perjuangan membangun Indonesia yang bersatu.

Dari sana lahir sosok seperti  — seorang negarawan yang dikenang bukan karena kemewahan jabatan, tetapi karena kesederhanaan dan keteguhan prinsip. Ia membuktikan bahwa kekuasaan bisa dijalankan dengan hati yang melayani.

Namun zaman berubah. Arus politik membawa berbagai tantangan. Kebijakan fusi partai pada era Orde Baru mengakhiri perjalanan Parkindo sebagai kekuatan politik mandiri. Sebuah bab sejarah tertutup, tetapi semangat pengabdian tidak pernah benar-benar mati.

Api itu tetap menyala melalui berbagai upaya politik setelah reformasi. Berbagai partai dan gerakan politik berbasis nilai Kristen maupun Katolik hadir membawa harapan bahwa suara moral tetap memiliki tempat dalam demokrasi Indonesia.

Meski tidak semuanya bertahan sebagai kekuatan besar, mereka meninggalkan pesan penting: perjuangan tidak selalu diukur dari jumlah kursi, tetapi dari keberanian menjaga nilai.

Tantangan terbesar sering kali bukan datang dari luar, melainkan dari dalam diri sendiri. Politik membutuhkan keteguhan karakter. Iman membutuhkan keberanian untuk diterjemahkan dalam tindakan nyata.

Karena itu, politik dan kekristenan bukanlah dua dunia yang harus dipisahkan. Keduanya bertemu ketika manusia memahami bahwa kekuasaan bukan hak istimewa, melainkan tanggung jawab.

Politik tanpa moral dapat berubah menjadi alat penindasan. Tetapi politik yang dipimpin oleh hati nurani dapat menjadi jalan menghadirkan keadilan.

Sudah saatnya umat Kristen tidak hanya menjadi penonton yang mengkritik dari luar pagar. Menjadi garam dan terang bukan hanya berbicara tentang kehidupan rohani, tetapi juga keberanian hadir di ruang publik.

Di parlemen, pemerintahan, lembaga hukum, dunia pendidikan, media, dan ruang kebijakan, Indonesia membutuhkan orang-orang yang membawa kejujuran, keberanian, dan kepedulian.

Namun kebangkitan politik Kristen tidak boleh dipahami sebagai upaya membangun sekat baru. Ia harus menjadi politik kebangsaan — politik yang berdiri untuk semua warga Indonesia tanpa membedakan agama, suku, maupun latar belakang.

Karena perjuangan sejati bukanlah tentang memenangkan satu golongan. Perjuangan sejati adalah memastikan bahwa rakyat kecil memiliki suara.

Petani yang mempertahankan tanahnya. Buruh yang memperjuangkan kehidupan layak. Guru yang tetap mengabdi dalam keterbatasan. Nelayan yang bertahan menghadapi perubahan zaman. Masyarakat kecil yang berharap mendapatkan keadilan.

Di situlah nilai iman diuji: bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam keberpihakan nyata.

Sebab sejarah tidak akan bertanya berapa lama seseorang memegang jabatan. Sejarah akan mencatat apa yang telah ia lakukan ketika memiliki kesempatan untuk melayani.

Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak politik yang memecah. Indonesia membutuhkan politik yang menyatukan.

Bukan politik yang mencari kekuasaan semata, tetapi politik yang menghadirkan harapan.

Karena pada akhirnya, kebangkitan politik yang berakar pada nilai-nilai Kristiani bukanlah tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Ini tentang satu panggilan besar: menjadikan kekuasaan sebagai jalan pelayanan, menjadikan iman sebagai sumber integritas, dan menjadikan Indonesia sebagai rumah bersama.

Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia