Lebak, targetoprasinews.com – Publik kembali dibuat geleng kepala. Proyek Peningkatan Jalan Simpang–Ciboleger senilai Rp 9.667.320.000 yang seharusnya menjadi urat nadi menuju kawasan Baduy, justru memperlihatkan wajah buruk: aspal mengelupas, retak menjalar, material terangkat seolah dikerjakan tanpa nurani.
Di Kampung Cibungur, Kecamatan Leuwidamar, kondisi jalan menunjukkan fakta pahit yang tidak bisa dibantah. Dokumentasi lapangan menampilkan serpihan hotmix yang terlepas seperti kulit yang mengelupas, memberikan tanda-tanda pengerjaan asal jadi. Ironisnya, proyek yang berada di bawah Kementerian PUPR—Ditjen Bina Marga melalui BPJN Banten—baru berjalan dalam hitungan hari dari total 41 hari masa kerja.
Namun kerusakannya sudah seperti proyek yang dibiarkan bertahun-tahun.
Ada proyek yang dikerjakan cepat, dan ada pula proyek yang cepat rusak. Yang ini, keduanya terjadi sekaligus.
Ketua Umum Ormas Badak Banten Perjuangan (BBP), Eli Sahroni, menyebut fenomena ini sebagai pukulan keras terhadap integritas pembangunan nasional di Banten.
“Anggaran miliaran bukan untuk ditanamkan ke jalan yang umur pakainya cuma sebentar. Uang rakyat harus kembali ke rakyat dalam bentuk infrastruktur yang layak, bukan jalan eksperimen,” tegasnya Eli Sahroni kepada media ini, selasa 9 Desember 2025.
Ia bahkan lebih jauh menyinggung soal evaluasi menyeluruh: spesifikasi, anggaran, hingga tonase material harus dibuka terang-benderang.
Menurut Eli, akar masalahnya bisa ditebak: pengawasan lemah, kontraktor leluasa.
“Ketika pengawas tidur dan kontraktor nakal, jangan mimpi hasilnya berkualitas. Jalan ini cepat rusak bukan karena hujan, tapi karena kelalaian.”
Ia menantang Satker PJN Wilayah II Banten untuk turun langsung dan tidak hanya menjadi penonton yang hadir saat peresmian tapi menghilang saat ada masalah.
Kini, masyarakat menanti:
Apakah BPJN dan kontraktor akan bertanggung jawab, atau justru membiarkan retakan ini menjadi simbol retaknya komitmen pembangunan?
Sumber: Ketua Umum BBP Eli Sahroni
Penerbit: Tim Redaksi

