WWW.TARGETOPRASINEWS.COM

Tengah Malam Dipulangkan, Bocah Demam Tinggi Malah Dirawat Intensif di RS Lain — RSUD Adjidarmo Disorot Keras

Lebak, TargetOprasiNews.com – Dugaan buruknya pelayanan kesehatan di RSUD Adjidarmo Kabupaten Lebak kini memantik kemarahan publik. Seorang bocah bernama Bahira yang datang dalam kondisi demam tinggi pada malam hari justru dipulangkan dari Instalasi Gawat Darurat (IGD), namun beberapa saat kemudian harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit lain.

Peristiwa tersebut memunculkan sorotan tajam terhadap kualitas pelayanan RSUD Adjidarmo, terlebih setelah klarifikasi internal rumah sakit dinilai tidak menjawab substansi persoalan yang dipertanyakan keluarga pasien.

Alih-alih meredam polemik, penjelasan pihak rumah sakit justru dianggap memperlihatkan lemahnya kepekaan dan ketepatan penanganan terhadap pasien anak yang membutuhkan pertolongan medis.

Dalam klarifikasi internal yang diterima keluarga, pihak rumah sakit menyebut pasien datang hanya dengan keluhan demam dan setelah diperiksa dokter jaga, kondisi pasien dianggap normal sehingga cukup menjalani rawat jalan.

“Izin menyampaikan terkait pasien yang ditolak di IGD. Tadi pas ditanyakan ke dokter yang jaga semalam, sama dicek di CCTV ternyata pasien ini datang dengan keluhan demam, tapi ketika dilakukan pemeriksaan sama dokter hasilnya normal dan keadaan umum pasiennya juga bagus. Makanya dokter menganjurkan untuk berobat jalan aja, jadi pasien dipulangkan dari IGD tidak dirawat,” demikian isi klarifikasi tersebut.

Namun pernyataan itu langsung menuai keberatan dari pihak keluarga. Orang tua pasien menegaskan anaknya tidak mendapatkan obat, tindakan medis awal, maupun penanganan pertolongan pertama sebelum dipulangkan dari IGD, padahal kondisi saat itu terjadi tengah malam dan pasien masih mengalami panas tinggi.

Keluarga pun mempertanyakan standar pelayanan medis yang diterapkan rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut.

“Kalau memang dianggap cukup rawat jalan, kenapa tidak diberikan obat atau tindakan awal terlebih dahulu? Ini pasien anak, datang malam hari dengan kondisi panas tinggi,” ungkap keluarga pasien dengan nada kecewa.

Yang paling disorot, setelah dipulangkan dari RSUD Adjidarmo, pasien justru langsung dibawa ke RS Misi dan dinyatakan membutuhkan penanganan medis intensif hingga harus menjalani perawatan.

Perbedaan penilaian medis antara dua rumah sakit itu memunculkan pertanyaan serius soal akurasi pemeriksaan dan profesionalitas pelayanan di IGD RSUD Adjidarmo.

Publik menilai, apabila kondisi pasien benar-benar normal sebagaimana diklaim pihak rumah sakit, seharusnya tidak terjadi perubahan penanganan yang begitu drastis di rumah sakit lain dalam waktu singkat.

Orang tua pasien, Rudi H, mengaku sangat terpukul atas kejadian yang menimpa anaknya. Ia menilai keputusan memulangkan pasien menunjukkan minimnya empati terhadap kondisi pasien anak yang membutuhkan perhatian serius.

Merasa ada kejanggalan dalam pelayanan tersebut, Rudi akhirnya melaporkan persoalan ini kepada DPRD Kabupaten Lebak Komisi III yang membidangi pengawasan pelayanan publik dan kesehatan.

Informasi yang diterima, anggota DPRD Komisi III langsung turun tangan meminta klarifikasi dan melakukan pengawasan terhadap dugaan lemahnya pelayanan pasien di RSUD Adjidarmo.

Sementara itu, sikap tertutup pihak rumah sakit juga menjadi sorotan. Hingga berita ini diterbitkan, Direktur RSUD Adjidarmo belum memberikan jawaban resmi atas upaya konfirmasi yang dilakukan wartawan terkait dugaan pelayanan terhadap pasien anak tersebut.

Kondisi ini dinilai memperburuk citra keterbukaan informasi publik, terlebih RSUD Adjidarmo merupakan fasilitas kesehatan milik pemerintah daerah yang seharusnya terbuka terhadap pengawasan masyarakat dan media.

Kasus ini kini berkembang bukan hanya soal dugaan lemahnya pelayanan kesehatan, tetapi juga menyangkut tanggung jawab moral dan kemanusiaan dalam menangani pasien, khususnya anak-anak.

Masyarakat berharap DPRD dan pihak terkait dapat mengusut persoalan ini secara terbuka dan objektif agar publik mengetahui fakta sebenarnya. Selain itu, kasus ini diharapkan menjadi evaluasi keras bagi seluruh fasilitas kesehatan agar tidak mengabaikan aspek empati, kehati-hatian, dan keselamatan pasien dalam setiap pelayanan medis.(Tim) 

Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia