Lebak, targetoprasinews.com – Ratusan hektare kawasan hutan produksi di wilayah BKPH Rangkasbitung resmi tercatat dalam register rencana tebangan tahun 2026. Data tersebut mengungkap puluhan titik lokasi penebangan yang tersebar di sejumlah Resort Polisi Hutan (RPH), dengan luas lahan bervariasi mulai dari sekitar 1 hektare hingga lebih dari 20 hektare.
Berdasarkan dokumen register yang diperoleh media ini, wilayah RPH Cileles menjadi salah satu kawasan dengan jumlah lokasi tebangan terbanyak. Sejumlah titik berada di Desa Gununganten dan Desa Sangkanmanik, Kecamatan Cimarga. Luas area yang tercatat pun cukup signifikan, mulai dari sekitar 5 hektare, 10 hektare, 16,81 hektare hingga mencapai hampir 20 hektare di beberapa petak kawasan hutan.
Asper Titan Fajrialam mengungkapkan bahwa dalam pengelolaan kawasan tersebut, sejumlah Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) turut dilibatkan sebagai mitra. Beberapa di antaranya yakni LMDH Harapan Maju, Sangkan Jaya, Sono Jaya Lestari, Marga Jaya Saluyu serta Jati Mulya.
“Pengelolaan hutan produksi ini melibatkan masyarakat melalui LMDH sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kawasan sekaligus memberikan manfaat bagi warga sekitar,” ujar Asper Titan Fajrialam kepada media ini, Selasa (17/3/2026).
Tak hanya di wilayah Cileles, register tebangan juga mencatat aktivitas serupa di RPH Cimarga dan RPH Muncang. Di wilayah Cimarga misalnya, lokasi tebangan berada di Desa Mekarmulya dengan luas mencapai sekitar 19,39 hektare dan 12,86 hektare yang dikelola oleh LMDH Rimba Saluyu.
Sementara itu di wilayah RPH Muncang, sejumlah titik tebangan tersebar di Desa Tanjungwangi, Malangsari, Margaluyu hingga Guradog yang berada di Kecamatan Muncang, Cipanas, Sajira dan Curugbitung.
Register data tebangan ini merupakan bagian dari perencanaan pengelolaan hutan produksi yang disusun melalui rencana kerja tahunan secara terukur. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pemanfaatan hasil hutan tetap berjalan sesuai aturan, tanpa mengabaikan prinsip kelestarian lingkungan.
Di balik deretan angka luas lahan dan lokasi tersebut, tersimpan harapan besar agar pengelolaan hutan tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan alam serta memberdayakan masyarakat desa hutan yang hidup berdampingan dengan kawasan tersebut.
Penulis: Edo. S
Penerbit: Tim Redaksi

