WWW.TARGETOPRASINEWS.COM

Di Anyaman Ketupat, Ada Doa yang Terangkat ke Langit: Qunutan di Tanah Lebak Banten


Banten, targetoprasonews.com – Malam pertengahan Ramadhan turun perlahan di Kabupaten Lebak. Cahaya lampu-lampu rumah berpadu dengan lantunan ayat suci yang menggema dari masjid dan musholla. Di dapur-dapur sederhana, tangan-tangan ibu menganyam janur, merebus beras dalam balutan daun kelapa, menyiapkan ketupat dan lepet dengan penuh cinta.

Malam ke-15 atau ke-16 bukanlah malam biasa. Di tanah ini, ia adalah malam Qunutan.

Warga berbondong-bondong menuju masjid. Anak-anak membawa rantang kecil, para ayah memanggul tampah berisi ketupat, para ibu tersenyum sambil menata lepet yang masih hangat. Aroma santan dan daun kelapa bercampur dengan wangi sajadah yang baru digelar.

Di serambi masjid, tak ada sekat. Tak ada jarak antara yang kaya dan sederhana. Semua duduk bersila, saling menyapa, saling mendoakan. Ketupat dibelah, lepet dibagi. Tawa kecil anak-anak berpadu dengan doa yang lirih namun dalam.

Qunutan bukan sekadar tradisi. Ia adalah pernyataan syukur.

Separuh perjalanan puasa telah dilalui. Lapar, dahaga, dan lelah telah ditempa dengan kesabaran. Di malam itu, warga Lebak mengangkat tangan, memohon agar separuh perjalanan berikutnya diberi kekuatan dan keberkahan.

Di setiap butir beras yang terbungkus rapi dalam anyaman ketupat, tersimpan harapan. Di setiap gigitan lepet yang manis, ada rasa persaudaraan yang kian menguat.

Tradisi ini dipercaya telah hidup sejak masa Kesultanan Demak hingga era Kesultanan Banten, ketika dakwah disampaikan dengan kelembutan budaya. Islam hadir bukan dengan paksaan, tetapi dengan sentuhan kearifan lokal yang merangkul.

Dan hingga kini, di tengah zaman yang serba cepat dan kian individualistis, Qunutan tetap bertahan. Ia menjadi jangkar yang menahan masyarakat agar tidak tercerabut dari akar kebersamaan.

Malam semakin larut. Ketupat telah habis dibagi. Namun yang tersisa bukan sekadar perut yang kenyang — melainkan hati yang hangat.

Di Lebak, pertengahan Ramadhan bukan hanya tentang hitungan hari. Ia adalah tentang doa-doa yang terangkat bersama, tentang tangan-tangan yang saling memberi, dan tentang iman yang kembali diteguhkan.

Qunutan bukan sekadar perayaan. Ia adalah napas kebersamaan yang tak pernah padam.

Penulis: Edo. S

Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia