WWW.TARGETOPRASINEWS.COM

Setelah Pemilu: Bekerja untuk Rakyat atau Bersiap untuk 2029?


targetoprasinews.com - Pemilu 2024 telah usai. Rakyat sudah berbicara. Mandat telah diberikan.

Namun pertanyaan yang kini mengemuka bukan lagi siapa yang menang, melainkan: untuk siapa kemenangan itu digunakan?

Untuk menjalankan amanah hari ini?

Atau mulai menabung posisi menuju 2029?

Di atas kertas, ekonomi Indonesia terlihat stabil. Pertumbuhan berada di kisaran lima persen. Tingkat pengangguran disebut menurun. Narasi optimisme terus digaungkan.

Tetapi di balik angka-angka makro itu, tidak semua rakyat merasakan ketenangan yang sama.

Sekitar 24 juta warga masih hidup di bawah garis kemiskinan. Jutaan lainnya bertahan di sektor informal tanpa kepastian upah dan perlindungan sosial. Harga kebutuhan pokok merangkak naik. Biaya pendidikan dan kesehatan tetap membebani. Generasi muda lulus dengan harapan tinggi, namun pasar kerja belum sepenuhnya siap menyerap mereka.

Pertumbuhan bisa naik.

Namun daya beli bisa tetap tertekan.

Statistik bisa membaik.

Namun kecemasan tetap nyata.

Dalam situasi seperti ini, politik semestinya hadir sebagai solusi. Tetapi yang lebih sering terlihat justru konsolidasi kekuatan, reposisi figur, penguatan citra, hingga kemunculan partai-partai baru yang mengklaim mewakili generasi muda.

Representasi anak muda memang penting. Namun mewakili bukan sekadar soal usia atau kemahiran bermain media sosial. Generasi muda membutuhkan pekerjaan layak, akses modal usaha, pendidikan relevan, dan sistem yang tidak mempersulit inovasi.

Jika nuansa 2029 mulai lebih ramai dibicarakan dibanding penyelesaian persoalan hari ini, maka ada yang perlu dikoreksi.

Mandat rakyat bukan tiket politik lima tahunan.

Ia adalah tanggung jawab harian.

Rakyat memilih agar harga stabil, lapangan kerja tersedia, dan hukum memberi rasa aman. Mereka tidak memilih untuk menyaksikan elite menyusun skenario masa depan sambil menunda persoalan sekarang.

Demokrasi memang memberi ruang untuk bersiap. Tetapi ketika persiapan lebih dominan daripada pelaksanaan, demokrasi berubah menjadi arena menghitung peluang, bukan memperbaiki keadaan.

Satirenya terasa pahit:

Ketika rakyat menghitung uang belanja yang makin tipis,politik menghitung peluang 2029.

Ketika keluarga kecil menjaga dapur tetap menyala,elite menjaga elektabilitas tetap menyala.

Mandat rakyat adalah keberanian bekerja sekarang.

Mandat 2029 adalah ambisi memimpin nanti.

Keduanya tidak salah. Yang membedakan negarawan dan sekadar politisi adalah urutan prioritasnya.

Sejarah tidak mencatat siapa yang paling cepat memulai kampanye berikutnya.

Sejarah mencatat siapa yang berani menuntaskan tanggung jawabnya.

Maka pertanyaan itu tetap berdiri:

Yang sedang dijalankan hari ini —

mandat rakyat, atau mandat 2029?

Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia