Lebak, Banten, TargetOprasiNews.com — Bertahun-tahun mereka menatap saluran irigasi yang dipenuhi lumpur. Air yang seharusnya menghidupi sawah-sawah di ujung hilir justru terhenti di tengah perjalanan. Padi menguning sebelum waktunya, biaya produksi terus membengkak, dan harapan petani perlahan ikut mengering bersama retaknya tanah persawahan.
Kini, Pembangunan Itu Mulai Berubah.
Lewat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan, peningkatan, operasi, dan rehabilitasi jaringan irigasi, pemerintah menghidupkan kembali urat nadi pertanian di Kabupaten Lebak, Banten. Program strategis nasional ini menjadi titik balik bagi ribuan petani yang selama ini bergantung pada jaringan irigasi yang rusak dan tertutup sedimentasi.
Dalam paket Rehabilitasi Jaringan Utama Daerah Irigasi Kewenangan Provinsi Banten, sepanjang 45,07 kilometer saluran irigasi berhasil direhabilitasi. Infrastruktur tersebut kini melayani 4.845 hektare lahan pertanian yang tersebar di Daerah Irigasi Cibinuangeun, Cisiih, Cikoncang, Cikidang, Bungbas, Leuwiheureung, Cilangkahan II, dan Cimangeunteung.
Perwakilan UPTD Pengelolaan DAS Cibaliung–Cisawarna, H. Kuncoro, menjelaskan bahwa sebelum rehabilitasi dilakukan, kondisi saluran sangat memprihatinkan. Sedimentasi yang menumpuk dan kerusakan di berbagai titik membuat air tidak mampu mencapai areal persawahan di bagian hilir.
"Setelah rehabilitasi selesai, aliran air kini jauh lebih lancar hingga ke wilayah hilir. Jalan inspeksi yang dibangun juga memberi manfaat besar karena memudahkan pengawasan sekaligus mempercepat distribusi hasil panen. Biaya angkut petani bahkan dapat ditekan hingga sekitar 50 persen," katanya.
Bagi petani, derasnya air yang kembali memenuhi saluran bukan sekadar persoalan teknis. Air adalah harapan. Air adalah jaminan musim tanam. Air adalah kepastian bahwa benih yang ditanam memiliki peluang tumbuh menjadi panen yang layak.
Namun Pemerintah Tidak Berhenti Setelah Pembangunan Selesai.
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cidanau Ciujung Cidurian memastikan proyek rehabilitasi kini memasuki masa pemeliharaan selama 360 hari sejak 31 Januari 2026. Pengawasan dilakukan secara berkala untuk memastikan seluruh infrastruktur tetap berfungsi sesuai standar.
BBWS mengakui terdapat beberapa titik longsoran yang dipicu faktor alam. Meski demikian, kondisi tersebut dipastikan tidak mengganggu fungsi utama jaringan irigasi. Penyedia jasa telah diperintahkan segera melakukan perbaikan sebagai bagian dari kewajiban selama masa pemeliharaan.
Inspeksi, monitoring, dan evaluasi akan terus dilaksanakan agar manfaat pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat dalam jangka panjang
Di tengah tantangan perubahan iklim dan ancaman krisis pangan, mengalirnya kembali air hingga ke sawah-sawah di ujung hilir menjadi lebih dari sekadar keberhasilan pembangunan infrastruktur. Ia menjadi simbol hadirnya negara di tengah kebutuhan petani, menjaga denyut kehidupan pertanian, sekaligus memperkuat langkah menuju swasembada pangan nasional.
Sebab ketika air kembali mengalir, yang tumbuh bukan hanya padi di hamparan sawah Lebak, melainkan juga optimisme ribuan keluarga petani yang menggantungkan masa depannya pada setiap musim tanam.
Penerbit: Tiem Redaksi



