Lebak, TargetOprasiNews.com – Di tengah malam yang hening, puluhan warga Kampung Dukuh, Desa Citeras, Kecamatan Rangkasbitung, berkumpul dalam satu suasana yang penuh haru. Bukan sekadar untuk merayakan kemerdekaan, tetapi untuk menundukkan kepala dan mengirimkan doa bagi para pahlawan.
Sabtu malam (16/8/2026), lapangan terbuka Kampung Dukuh, RT 002/006, menjadi saksi istigosah dan doa bersama dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Sejak pukul 19.30 WIB, pemuda-pemudi, masyarakat, tokoh agama, hingga para sesepuh kampung duduk bersama. Perbedaan usia dan latar belakang seolah melebur dalam satu ikatan: rasa syukur atas kemerdekaan.
Lantunan istigosah yang dipimpin Ustaz Sarmanan terdengar khusyuk. Doa demi doa dipanjatkan, memohon agar Indonesia senantiasa diberi kedamaian, persatuan dan keberkahan.
Di balik kemeriahan perayaan Agustusan, malam itu warga kembali diingatkan bahwa kemerdekaan memiliki harga yang tidak murah. Ada keringat, air mata, bahkan nyawa para pejuang yang menjadi jalan bagi generasi hari ini untuk hidup dalam kebebasan.
“Mari kita isi kemerdekaan ini dengan kegiatan positif, gotong royong, dan menjaga persatuan. Semoga doa-doa kita malam ini dikabulkan untuk kebaikan kampung, desa, dan bangsa,” ujar Ustaz Sarmanan.
Suasana semakin khidmat ketika rangkaian doa ditutup dengan penghormatan kepada arwah para pahlawan. Tidak ada sorak kemenangan. Yang terdengar justru lantunan doa dan harapan dari masyarakat.
Setelah istigosah, pemotongan tumpeng dilakukan sebagai simbol rasa syukur. Potongan tumpeng menjadi sederhana, tetapi maknanya dalam: kemerdekaan harus dirawat bersama dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ketua Panitia HUT RI Kampung Dukuh, Farel, mengatakan peringatan kemerdekaan tahun ini sengaja tidak hanya diisi perlombaan. Kegiatan keagamaan menjadi bagian penting untuk mengajak generasi muda memahami makna kemerdekaan.
“Kemerdekaan bukan hanya tentang merayakan, tetapi juga tentang menghargai perjuangan dan mengisinya dengan kegiatan yang bermanfaat,” katanya.
Malam semakin larut. Namun semangat warga belum padam.
Dari sebuah lapangan sederhana di Kampung Dukuh, sebuah pesan kembali ditegaskan: kemerdekaan tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus diisi dengan persatuan, gotong royong dan kepedulian.
Karena para pahlawan telah menyerahkan kemerdekaan kepada generasi hari ini.
Kini, giliran generasi hari ini menjaganya.
Dari Kampung Dukuh untuk Indonesia — bersatu, berdaulat, rakyat sejahtera, Indonesia maju.
Pewarta: Dadang Setiawan

