Jakarta, targetoprasinews.com — Pemilihan Umum 1955 bukan sekadar peristiwa politik dalam sejarah Indonesia. Ia adalah cermin dari sebuah bangsa yang sedang belajar berjalan dalam kebebasan—sekaligus ujian apakah kemerdekaan itu akan dihidupi dengan tanggung jawab.
Di tengah keterbatasan, tekanan ideologi global, dan kondisi negara yang belum stabil, rakyat Indonesia menunjukkan kedewasaan yang mengagumkan. Mereka datang dari berbagai latar belakang, berjalan jauh, antre berjam-jam, hanya untuk satu hal: memberikan suara.
Dalam perspektif iman, tindakan ini bukan hanya partisipasi politik, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral sebagai warga bangsa—sebuah panggilan untuk turut ambil bagian dalam kehidupan bersama.
Seperti falsafah Jawa yang hidup di tengah masyarakat:
“Jer basuki mawa bea”
(Setiap keberhasilan menuntut pengorbanan)
Demokrasi Indonesia lahir dari pengorbanan, bukan kenyamanan.
Ketika Mayoritas Berbicara Keras
Hasil Pemilu 1955 menunjukkan dominasi empat partai besar: PNI, Masyumi, NU, dan PKI. Mereka mewakili arus besar ideologi yang membentuk wajah Indonesia saat itu.
Namun di balik besarnya suara, tersimpan kenyataan lain—tidak ada satu pun kekuatan yang mampu menyatukan secara utuh. Perbedaan pandangan justru menjadi medan tarik-menarik yang berkepanjangan.
Peribahasa Sunda mengingatkan:
“Loba teuing pamadegan, matak lieur nu ngalakonan”
(Terlalu banyak pendapat membuat pelaksana menjadi bingung)
Mayoritas bersuara, tetapi tidak selalu berjalan bersama.
Hadir untuk Menjaga, Bukan Menguasai
Di tengah dinamika itu, hadir Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan Partai Katolik. Secara jumlah, mereka kecil. Namun secara panggilan, mereka membawa sesuatu yang lebih dalam.
Mereka hadir bukan untuk mendominasi, tetapi untuk menjaga nilai kebangsaan yang inklusif—bahwa Indonesia adalah rumah bagi semua.
Tokoh seperti I.J. Kasimo menjadi contoh bahwa iman tidak harus menjauh dari politik, tetapi justru memberi arah: menghadirkan kejujuran, tanggung jawab, dan semangat pelayanan.
Nilai ini sejalan dengan ajaran iman Kristen—bahwa kekuasaan bukan untuk ditinggikan, tetapi untuk melayani (bandingkan dengan prinsip kepemimpinan yang melayani dalam Injil).
Seperti falsafah Jawa:
“Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti”
(Kekuatan akan luluh oleh kasih dan kebijaksanaan)
Di tengah kerasnya politik, kasih dan kebijaksanaan menjadi jalan yang tidak populer—namun benar.
Ketika Demokrasi Kehilangan Arah
Pemilu 1955 adalah keberhasilan rakyat, tetapi tidak sepenuhnya menjadi keberhasilan para pemimpin.
Parlemen terpecah.
Konstituante gagal mencapai mufakat.
Perbedaan menjadi jurang, bukan jembatan.
Padahal kearifan lokal telah lama mengingatkan:
“Hirup kudu sauyunan, ulah papisah ku pamadegan”
(Hidup harus rukun, jangan terpecah karena perbedaan)
Tanpa kerendahan hati, perbedaan berubah menjadi perpecahan.
Pelajaran Iman dan Kebangsaan
Sejarah 1955 mengajarkan sesuatu yang penting bagi umat percaya:
Bahwa menjadi kecil tidak berarti tidak berarti.
Bahwa menjadi minoritas bukan alasan untuk diam.
Parkindo dan Partai Katolik menunjukkan bahwa kehadiran orang percaya dalam ruang publik bukan untuk mencari kuasa, tetapi untuk menjadi terang dan garam bagi bangsa.
Sebagaimana pepatah Jawa:
“Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah”
Dan dalam terang iman, kita memahami:
persatuan bukan hanya kebutuhan sosial, tetapi juga panggilan rohani.
Ketika Iman Menjaga Bangsa
Belajar dari Pemilu 1955, kita melihat satu kebenaran yang tidak lekang oleh waktu:
Mayoritas bisa menentukan arah,
tetapi tidak selalu menjaga persatuan.
Di situlah peran orang percaya menjadi penting.
Bukan untuk mendominasi,
tetapi untuk hadir—
menjaga, merawat, dan menjadi jembatan.
Seperti falsafah Sunda:
“Silih asah, silih asih, silih asuh”
(Saling menguatkan, mengasihi, dan membimbing)
Karena pada akhirnya,
Indonesia tidak berdiri karena kesamaan,
melainkan karena ada yang setia menjaga perbedaan dengan kasih.
Daftar Referensi
Feith, Herbert. The Indonesian Elections of 1955. Cornell, 1957.
Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia Since c.1200. Stanford, 2008.
Cribb, Robert & Kahin, Audrey. Historical Dictionary of Indonesia. 2004.
BPS. Hasil Pemilihan Umum 1955. Jakarta, 1956.
Penulis: Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)

