Lebak, targetoprasinews.com – Enam tahun sudah warga korban banjir bandang dan longsor di Kampung Sigobang, Kecamatan Lebak Gedong, hidup dalam keterbatasan di hunian sementara. Janji pembangunan yang sempat terdengar pascabencana 2020 lalu, hingga kini belum sepenuhnya terwujud.
Di tengah penantian panjang itu, secercah harapan datang dari para mahasiswa.
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Banten Bersatu turun langsung ke lokasi pengungsian dengan melakukan peletakan batu pertama pembangunan Taman Baca Masyarakat (TBM) sekaligus merenovasi Majelis Ta’lim yang selama ini menjadi pusat ibadah dan kegiatan warga.
Koordinator Pusat BEM Banten Bersatu, Bagas Yulianto, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi bentuk nyata kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat yang masih bertahan dalam kondisi serba terbatas.
“Peletakan batu pertama ini bukan hanya simbol dimulainya pembangunan, tetapi langkah awal untuk merawat harapan masyarakat. Sudah enam tahun warga hidup dalam keterbatasan, sementara pembangunan yang dijanjikan tak kunjung terealisasi,” ujar Bagas, Senin (9/2/2026).
Menurutnya, taman baca yang dibangun di lokasi Huntara diharapkan menjadi ruang belajar dan tempat tumbuhnya semangat generasi muda meski berada di tengah keterbatasan.
“Taman baca ini akan menjadi pusat literasi, tempat anak-anak tetap bisa bermimpi dan belajar meskipun mereka masih tinggal di pengungsian,” katanya.
Selain itu, renovasi Majelis Ta’lim dilakukan agar warga memiliki tempat ibadah yang lebih aman dan layak, sekaligus menjadi ruang penguatan spiritual di tengah masa sulit yang berkepanjangan.
Ketua pelaksana kegiatan, Rizqi, menyampaikan bahwa program ini lahir dari semangat gotong royong mahasiswa untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
“Kami ingin menghadirkan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan warga. Ini mungkin langkah kecil, tetapi menjadi bukti bahwa gerakan bersama bisa menghadirkan perubahan,” ungkapnya.
BEM Banten Bersatu juga menyampaikan kritik konstruktif kepada pemerintah daerah maupun pusat agar lebih serius memperhatikan kondisi warga yang hingga kini masih bertahan di hunian sementara dengan fasilitas yang jauh dari memadai.
Mahasiswa menilai, negara tidak boleh membiarkan masyarakat terus menunggu tanpa kepastian.
“Negara harus hadir, memastikan hak masyarakat atas tempat tinggal layak, akses pendidikan, serta pembangunan infrastruktur yang seharusnya sudah selesai sejak lama,” tegas Bagas.
Sementara itu, Ketua RT Kampung Sigobang, Bared, mengaku terharu atas kepedulian mahasiswa yang turun langsung membantu warga.
“Kami sangat berterima kasih. Selama bertahun-tahun kami hidup dalam keterbatasan. Kehadiran taman baca dan perbaikan Majelis Ta’lim ini sangat berarti bagi anak-anak dan warga,” ujarnya.
Di tengah hunian sementara yang seharusnya hanya menjadi tempat singgah, mahasiswa datang membawa pesan bahwa harapan belum padam. Taman baca dan Majelis Ta’lim kini menjadi simbol bahwa masyarakat Sigobang masih layak diperjuangkan.
(fik)


