Pandeglang, targetoprasinews.com – Di tengah derasnya arus informasi dan riuhnya jagat digital yang kerap kabur antara fakta dan opini, sekelompok mahasiswa di Banten memilih untuk belajar berdiri di garis depan kebenaran.
Selama dua hari, 11–12 Februari 2026, Aula DPC PKB Kabupaten Pandeglang menjadi saksi lahirnya semangat baru. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) TIKOM menggelar Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar, mengumpulkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Banten yang memiliki satu tekad yang sama: menjadi jurnalis muda yang kritis dan berintegritas.
Mengusung tema “Mengasah Nalar, Menulis Fakta: Langkah Awal Menjadi Jurnalis yang Luar Biasa”, pelatihan ini bukan sekadar forum belajar teknik menulis berita. Ia menjadi ruang pembentukan karakter—tempat nalar diasah, kepekaan sosial ditumbuhkan, dan keberanian menyampaikan kebenaran dipupuk.
Ketua Umum UKM TIKOM, M. Nafis, menegaskan bahwa di era banjir informasi, tanggung jawab jurnalis semakin besar.
“Menjadi jurnalis hari ini bukan hanya soal cepat menulis, tetapi tentang keberanian menjaga fakta dan integritas. Kami ingin melahirkan jurnalis muda yang tidak mudah goyah oleh tekanan dan tetap berpihak pada kebenaran,” ujarnya.
Selama pelatihan, peserta digembleng dengan materi teknik penulisan berita, wawancara, produksi karya jurnalistik, hingga pemahaman kode etik. Namun lebih dari itu, mereka diajak memahami bahwa setiap kata yang ditulis memiliki dampak, setiap berita yang diterbitkan membawa konsekuensi.
Ketua Pelaksana, Nining Khairunnisa, menyebut pelatihan ini dirancang sebagai kombinasi teori dan praktik agar peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi mampu menghasilkan karya nyata.
“Kami ingin mereka pulang bukan hanya dengan catatan materi, tetapi dengan kesadaran bahwa jurnalisme adalah amanah,” kata Nining.
Sejumlah praktisi media dan akademisi hadir berbagi pengalaman, di antaranya Nana Sutisna A (GM Jawa Pos), Rizal Fauzi (wartawan dan dosen), Nipal Sutiana (wartawan Tangsel Pos), Daus Lengkara (wartawan Seantero), Ilham Auliya Jafra (pembuat film), Ine Fitrianingsih (LPM Extama), serta Nabila Alsabila (Founder Opini.id).
Diskusi berlangsung hangat. Pertanyaan-pertanyaan kritis bermunculan. Di sela praktik penulisan dan produksi karya, tampak keseriusan di wajah para peserta—sebuah tanda bahwa semangat itu nyata.
Di tengah tantangan disinformasi dan krisis kepercayaan publik terhadap media, langkah kecil dari Pandeglang ini menjadi pesan penting: regenerasi jurnalis tidak boleh berhenti.
UKM TIKOM menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda yang ingin berdiri tegak sebagai penjaga akurasi, pengawal kebenaran, dan penyampai suara publik.
Dari aula sederhana itu, nyala semangat jurnalisme muda mulai menyala—pelan, namun penuh keyakinan. (Adol/dadang)

