Lebak, targetoprasinews.com — Ketika malam seharusnya menjadi waktu istirahat bagi warga Kampung Cirompang, Desa Maja Baru, Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak, justru berubah menjadi jam kerja penuh hiruk-pikuk. Aktivitas Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Yayasan Dermawan Mentari Megha yang berlangsung nyaris 24 jam kini memicu kemarahan dan keputusasaan warga sekitar.
Bising suara karyawan, tawa terbahak-bahak di tengah malam, hingga aroma busuk limbah makanan yang menusuk hidung, menjadi “menu” harian warga yang rumahnya berdempetan langsung dengan dapur MBG tersebut. Ironisnya, semua itu terjadi tanpa sosialisasi, tanpa izin yang jelas, dan tanpa empati terhadap lingkungan sekitar.
Produksi makanan yang berlangsung tanpa henti membuat malam kehilangan maknanya. Suara gaduh terdengar hingga larut, memaksa warga menutup telinga di rumah sendiri.
Salah satu warga, H. Rosid, yang telah puluhan tahun menetap di Kampung Cirompang, tak mampu lagi menyembunyikan kekecewaannya. Kepada awak media, Sabtu (09/01/2026), ia mengungkapkan isi hatinya dengan nada getir.
“Saya bukan menolak program Makan Bergizi Gratis. Saya justru mendukung penuh program pemerintah. Tapi tolong, bekerjalah dengan adab. Ini kampung, bukan pasar malam. Malam hari itu waktunya orang istirahat, bukan untuk canda, teriak, dan ketawa berlebihan,” ucapnya dengan suara bergetar.
Namun yang membuat luka H. Rosid semakin dalam bukan hanya kebisingan. Saat ia menegur dengan cara baik-baik, justru jawaban arogan yang ia terima.
“Saya ditegur balik dengan kata-kata kasar. Bahkan ada yang bilang, ‘Kalau tidak mau terganggu, pindah saja rumahnya.’ Itu menyakitkan. Saya sudah tinggal di sini puluhan tahun, jauh sebelum dapur MBG ini berdiri. Kok seenaknya mereka menyuruh saya pindah?” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Tak hanya soal etika, warga juga mempertanyakan legalitas operasional dapur MBG tersebut. Hingga kini, pengelola disebut tak pernah menunjukkan izin resmi, tak pernah melakukan musyawarah, dan tak pernah meminta persetujuan warga sebelum beroperasi di tengah permukiman padat.
Persoalan limbah pun menjadi ancaman nyata. Bau tak sedap dari sisa makanan dan sampah yang diduga tidak dikelola dengan baik kerap menyelimuti lingkungan, terutama saat malam dan dini hari. Warga khawatir kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan, terutama anak-anak dan lansia.
Ironi kian terasa ketika upaya media untuk meminta klarifikasi menemui jalan buntu. Media JGN telah berulang kali mencoba menghubungi penanggung jawab Dapur MBG Yayasan Dermawan Mentari Megha, namun hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola memilih bungkam dan menghindar, seolah menutup telinga dari jeritan warga.
Kini, warga Kampung Cirompang hanya berharap satu hal: kehadiran negara. Mereka mendesak pemerintah desa, kecamatan, hingga instansi terkait untuk segera turun tangan, menertibkan operasional dapur MBG, dan memastikan program mulia negara tidak berubah menjadi sumber penderitaan rakyat.
Sebab program untuk mencerdaskan dan menyehatkan generasi bangsa tidak boleh dibangun di atas terganggunya hak warga untuk hidup tenang dan bermartabat.
Pewart: H. Nurjaman
Editor: Edo S

