WWW.TARGETOPRASINEWS.COM

Isak Tangis Haru Pecah di Balik Jeruji, Hari Ibu Jadi Pengingat Cinta Tak Pernah Terpenjara


Lebak, targetoprasinews.com – Tangis lirih berubah menjadi isak haru. Pelukan yang lama tertahan akhirnya terlepas. Di balik tembok tinggi dan jeruji besi Lapas Kelas III Rangkasbitung, peringatan Hari Ibu menjelma menjadi momen paling emosional bagi puluhan warga binaan, Senin.

Sebanyak 70 ibu warga binaan duduk dengan mata berkaca-kaca di Lapangan Serbaguna Lapas Rangkasbitung. Hari itu, mereka tidak hanya memperingati Hari Ibu, tetapi juga merayakan kembali cinta, penyesalan, dan harapan yang selama ini terpendam. Kehadiran Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lebak beserta jajaran seakan menjadi penguat, bahwa di balik status sebagai warga binaan, mereka tetaplah seorang anak dan seorang ibu yang rindu akan pelukan keluarga.

Rangkaian kegiatan yang ditampilkan—mulai dari seni persembahan warga binaan, doa bersama, hingga sesi pembinaan—mengalirkan emosi mendalam. Tangis pecah ketika warga binaan dipertemukan dengan keluarga, saling menggenggam tangan, saling memaafkan, dan saling menguatkan. Tak sedikit yang menundukkan kepala, menahan sesal, seraya memanjatkan harapan untuk bisa kembali menata hidup.

Kepala Lapas Rangkasbitung, Muarif Khakim, dengan suara bergetar menyampaikan bahwa peringatan ini jauh melampaui sekadar agenda seremonial.

“Ini bukan tentang acara, tapi tentang hati. Tentang bagaimana seorang ibu tetap menjadi cahaya, meski anaknya berada di tempat yang paling gelap. Ibu adalah pintu surga, dan dari doa merekalah kekuatan warga binaan tumbuh untuk bangkit, berubah, dan menghadapi hidup dengan lebih baik,” ungkapnya.

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lebak pun menyampaikan pesan yang menembus relung hati para warga binaan. Ia mengajak mereka untuk tidak larut dalam masa lalu, tetapi menjadikan kasih seorang ibu sebagai pijakan untuk bangkit.

“Kasih ibu tidak pernah mengenal batas, bahkan tembok penjara sekalipun. Hari Ibu adalah pengingat bahwa selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri dan menata masa depan yang lebih baik,” tuturnya.

Di akhir kegiatan, pelukan kembali menghangatkan suasana. Tangis yang mengalir bukan lagi semata kesedihan, melainkan harapan. Hari itu, Lapas Rangkasbitung membuktikan bahwa pembinaan tidak hanya soal aturan dan hukuman, tetapi juga tentang menyentuh hati, merawat kemanusiaan, dan menyalakan kembali harapan di balik jeruji besi.(ds) 

Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia